Minggu, 11 Maret 2012

Membangun Karakter Religius melalui Seni

Bentuk perilaku yang disadari sebagai bagian dari cara hidup tertentu dalam masyarakat muslim berkaitan dengan kesadaran untuk selalu mengadakan hubungan dan pendekatan dengan penciptanya. Dapat dikatakan bahwa bentuk pengamalan dan penghayatan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah khusus seperti sholat, tetapi juga ibadah umum dalam bentuk tingkah laku tertentu, termasuk dalam hal berkesenian. Sejatinya, kesenian harus merambah penguatan lima hal: kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ), kreativitas (CQ) serta aktivitas (AQ).

Berkaitan dengan upaya pembentukan karakter, Kementrian Pendidikan Nasional R.I. mengadopsi 18 pilar pendidikan karakter untuk diberlakukan dalam pendidikan sekolah, dari tingkat SD sampai dengan tingkat SMA. Penjabaran Pendidikan karakter ini sebelumnya telah diamanatkan secara garis besarnya dalam UU Sistim Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 di mana salah satu tujuan pendidikan nasional adalah tercapainya pendidikan karakter. Religius adalah salah satu dari 18 pilar tersebut. Karakter religius ini bisa tercermin dari beberapa tarian Islam.

Kualitas estetik tari sebagai prestasi kreativitas manusia tidak lepas dari pengaruh nilai budaya yang melatarbelakanginya. Nilai budaya Islam sebagai pandangan hidup telah melatarbelakangi perilaku umatnya. Hal tersebut tergambar dalam nuansa tari Rodat, Zapin serta Hadrah, misalnya. Nampak jelas bagaimana norma-norma keindahan dengan latar belakang Islam terperaga.

Tauhid dan dzikir yang terdapat pada tari Rodat, Zapin dan Hadrah di antaranya diwadahi lewat gerak, syair iringan dan tata panggung sebagai perwujudan kreativitas dalam bentuk koreografi yang mendapat pengaruh budaya yang bercorak Islam.

Tauhid dan dzikir sebagai nilai Islam diwujudkan dalam bentuk kreativitas tari yang diharapkan dapat memberikan makna bagi manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan dalam perannya sebagai pembimbing dalam kehidupan beragama untuk mencapai kualitas takwa.

Norma-norma keindahan Islam merupakan penerjemahan secara simbolis terhadap kepercayaan dan pemahaman kepada Tuhan yang tercermin dalam formula tauhid dan dzikir. Nilai-nilai ajaran Islam yang dominan dalam masyarakat Islam merupakan sumber acuan dalam lahirnya kesenian. Demikian halnya dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya.

Nilai-nilai ajaran Islam akan menjadi bingkai penuangan keindahan dalam kesenian Islam. Sehingga kekuatan nilai tersebut tidak hanya menjiwai dan mewarnai tetapi memberi bentuk terhadap keseniannya.
Menjadi salah satu ekpresi budaya manusia, seni tari akan selalu hadir dan dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan. Sehingga persoalan yang ada di dalamnya berkaitan dengan masalah cita budaya dari masyarakat yang menghasilkannya. Sebagai mahluk berbudaya manusia memiliki potensi yang bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi budaya setempat.

Nilai-nilai Agung dalam Koreografi Rodat, Zapin dan Hadrah
Sepanjang peradaban kehidupan tari, kreativitas mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Sehingga kreativitas itu memberi makna terhadap kehidupan sekaligus mencerminkan kualitas dari sebuah peradaban dalam proses kebudayaan yang makin berkembang.

Kreativitas merupakan faktor yang paling penting dalam perubahan sosial budaya. Dengan kreativitas manusia memberikan makna terhadap realitas alam semesta dan mengembangkan corak kehidupannya. Sehingga pada fase tertentu banyak kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan melalui interaksi dengan lingkungan fisik, sosial, intelektual dan spiritual.

Dalam peristiwa kesenian, suatu bentuk kreativitas yang terungkap dalam Rodat, Zapin dan Hadrah memiliki nilai dan makna antara lain religius dan makna sosial. Nilai yang tercermin dari tari-tari tersebut dalam peristiwa kesenian yng berlangsung dalam kehidupan yang membudaya, pada hakekatnya merupakan perwujudan dari nilai kebersamaan yang timbul dari kesadaran individual ataupun kolektif yang lahir dari lapisan agamanya yang terdalam sebagai faktor yang mendasari keberadaannya.

Dalam sajiannya, terdapat nilai yang tinggi. Juga terdapat nilai yang menyangkut tentang kebenaran hidup yang diwahyukan oleh Tuhan melalui utusan-Nya. Hal tersebut merupakan unsur sajian utamanya. Tujuannya adalah menarik umat Islam untuk mencintai ajaran-Nya.

Ditinjau dari segi koreografinya, ketiganya tersaji gerak yang sebenarnya sederhana. Dengan tehnik yang tidak terlalu rumit. Pemusatan gerak tertumpu pada tangan dengan volume ruang di depan tubuh. Serta banyak bertumpu pada kaki (Zapin). Kesederhanaan tersebut juga nampak pada penggunaan pola lantai.

Pewarisan budaya masa lampau juga terjadi pada tari. Karena tari merupakan sarana ungkap budaya manusia yang di dalamnya ada nilai, tujuan serta fungsi. Berkaitan dengan tari sebagai sarana ungkap budaya manusia, maka di dalamnya akan tercermin dari mana asal tari itu.

Agama Islam sebagai salah satu sumber budaya merupakan suatu sistem yang mengatur tentang tata hidup dan kehidupan manusia. Sehingga Islam memberi warna dan isi garapan tari. Warna tersebut menentukan bentuk serta memberi ciri dari kehidupan yang menghasilkannya.

Warna dan isi dari garapan tari tersebut tercermin pada bentuk koreografi yang indikasinya dapat diamati dalam bentuk dan tehnik, ide, nilai, misi atau keutuhan wujud dalam koreografi tari. Tiap-tiap komponen yang menentukan kesatuan wujud tersebut didasari oleh latar belakang atau alasan yang bersumber pada ajaran Islam.
Maka dalam kesenian Islam terkandung manfaat bagi manusia. Dengan berkesenian, manusia mendapatkan kepuasan jiwa. Dengan agama menusia menjadi beriman. Sehingga nilai agama dalam, kesenian Islam merupakan kelekatan kaitan antara aspek religi Islam dengan nilai estetika seni Islam.

Perpaduan aspek religi Islam dengan nilai estetika seni Islam dijadikan tujuan utama dalam membentuk manusia yang berakhlaq. Sehingga tauhid dan dzikir sebagai nilai dalam seni Islam dijadikan salah satu cara untuk membimbing pengalaman manusia dalam menghayati kehidupan beragama.

Dengan seni, manusia mendapat kepuasan jiwa, dengan agama manusia menjadi beriman. Sehingga nilai agama dalam kesenian Islam merupakan kelakatan kaitan antara aspek religi dan dengan nilai estetis.
Muara suci yang akan tergapai tentu akan terbentuk manusia yang berakhlak. Sehingga tauhid dan dzikir sebagai nilai dalam seni Islam dijadikan salah satu cara untuk membimbing pengalaman manusia dalam menghayati kehidupan beragama.
Islam sebagai salah satu sumber penciptaan tari berperaan sangat kuat dalam memberi warna dan isi pada garapan tari. Peranan tersebut ada pada ide estetis sebagai konsep kekaryaan dan garap medium.

Ajaran Islam sebagai motivasi psikologis berperan memberi arah serta pedoman dalam berkreativitas. Dengan demikian, arah penciptaan kreativitas dengan sendirinya menciptakan satu kaidah yang terdapat pada ajaran agama. Tari yang bercorak kepatuhan ajaran tersebut dapat dirasakan dalam bentuk koreografi.

Keberadaan dan sinambungnya tari Rodat, Zapin serta Hadrah didasari sikap hidup beragama masyarakat. Pencipta serta pelakunya. Tercermin benar bagaimana perilaku penghayatan dan pengamalan agama dalam meyakini, melaksanakan, mempelajari serta menyebarluaskannya.

Di balik rancak nan estetisnya koreografi Rodat, Zapin serta Hadrah terdapat satu sarana pembangkit kesadaran pribadi atau kelompok untuk hadir Di samping itu, secara langsung maupun tidak, penyajian koreografi ketiganya yang dilakukan secara berkelompok didasari kesadaran adanya ikatan kebersamaan.
Keberadaan tiga tari tersebut juga didasari motif mengingatkan saudara seagama tentang iman, ilmu serta dakwah. Terbukti, pada hadrah misalnya, sangat kental tersirat suatu seruan, anjuran dan ajakan terhadap umat Islam untuk lebih meningkatkan kualitas iman dan taqwa.
Oleh: Agus Setiawan, S.Pd(Guru SMAN 1 Driyorejo)

Sumber :Disbangkes-Jatim

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar/tanggapan anda?