Sabtu, 13 November 2010

Merentas Jalan Tradisi Lumpur Gresik

REMBUG BUDAYA BUDAYAWAN SEJARAWAN GRESIK DENGAN MASYARAKAT LUMPUR

Dari kiri, Pak Darojat yang masih memegang kitab asli Sindujoyo, Pelaku mocopat Pak Nur Hasyim, H. Ajuk tokoh Lumpur dan Ketua Komite Seni Religi/Tradisi DKG.







Dalam suasana yang akrab dan santai, tepat pukul 8 malam di Bale Gede ( Bale Kambang ) Desa Lumpur pesisir kota Gresik berkumpul para seniman, budayawan dan sejarawan Gresik yang disambut oleh masyarakat Lumpur dengan rasa kekeluargaan yang khas Lumpur. Tidak kurang yang hadir diantaranya Lurah Lumpur, pelukis Kris Adji AW yang juga ketua DKG ( Dewan Kesenian Gresik), Budayawan Oemar Zaenudin ( Cak Nud), Cak Fattah Yasin, Cak H. Ajuk, Cak Ucok, Sejarawan Mustakim, Amir Syarifuddin,pelaku tradisi Jawa Hartono, Cak Tas’an sang pemusik, Cak Nanang yang Pemuda Pelopor itu ,dll. Dan tentu saja pakar dari ITS Pak Andy dan dari UNTAG Bu Hesti yang datang bersama staf pegawai Dinas PU Kabupaten Gresik dan beberapa mahasiswanya.

Acara yang didalamnya dilengkapi dengan jajanan dan makanan khas Lumpur seperti ndok bader (telur ikan bader), jajan loro gudig, luwo (manisan buah) 8 macam, masakan kelo mboksiya dan sebagainya itu diawali dengan acara mocopat serat Sindujoyo oleh Mbah Nur Hasyim, beliau adalah satu diantara dua orang yang tersisa ( satunya adalah Pak Mat Kauli-Kerangkiring) yang bisa membaca /mocopat dengan cengkok khas Gresik yang berbeda dengan cengkok Jawatengahan atau yang lain.

Dengan suara tuanya yang khas dan komentar-komentarnya setiap ia berhenti sejenak saat mocopat Serat Sindujoyo itu dan kemudian melanjautkan kembali bacaannya, apalagi sebentar-sebentar ia membetulkan kaca matanya yang tebal , walaupun lampu dalam Bale Gede sudah terlanjur diturunkan dan didekatkan pada kitab yang dibaca Mbah Nur yang usianya memang sudah udzur itu, namun masih tersisa semangatnya mempertahankan tradisi mocopat yang biasa dibacakan kalau ada yang nanggap dalam acara hajatan pengantin dan khol (Haul) Sindujoyo tiap tahun atau lainnya.

Ketika Mbah Nur membaca serat itu, ada rasa trenyuh mana kala teringat bahwa belum ada generasi berikutnya yang kelak mampu menggantikan tugas tradisi beliau. Akankah peristiwa tradisi seperti ini akan segera berakhir? Dan kelak akan menjadi sekedar kenangan sejarah? Mudah-mudahan tidak.

Kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan Pencak Macan khas Lumpur. Yang menarik adalah pelaku pencak macan yang biasanya dilakukan oleh orang-orang dewasa, kali ini dilakukan oleh anak-anak usia SD. Seolah-olah masyarakat Lumpur ingin menunjukkan pada tamunya bahwa mereka telah berhasil mengkader generasi mudanya untuk mempertahankan seni tradisi pencak macan itu. Tentu saja usaha ini patut diapresiasi dan perlu perhatian kita dan pemerintah yang dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gresik. Sayang ya.. mereka nggak datang………..

Dengan penuh semangat anak-anak pencak macan ini (atau pencak macan anak-anak,..atau bisa jadi ana’an pencak macan ) menampilkan kebolehannya memainkan musik (gaya jaranan) dan ketrampilan olah silat/pencak yang diperankan dalam topeng kera dan macan (karena itu tari ini disebut pencak macan). Sayangnya peran Gondoruwo (hantu) tidak tampil (yaa…nggak papa lah.. namanya aja spontanitas).

Sesaat setelah pencak macan meninggalkan arena di depan Bale Gede yang mendapatkan perhatian serius masyarakat dan para pakar itu, kemudian muncul pertunjukan yang juga dilakukan oleh anak-anak, yaitu pertunjukan kedundangan. Kedundangan adalah tradisi anak-anak Lumpur di bulan Ramadhan, dimana mereka memainkan rebana yang dipadu dengan bedug kecil untuk mengiringi bacaan sholawat Nabi sambil membawa kotak amal kemudian keliling desa Lumpur ( kadang juga keluar desa).

Acara pertunjukan akhirnya selesai, walau memang sengaja sepotong-sepotong tapi ternyata bisa menjadi bahan menarik untuk diperbincangkan dan didiskusikan oleh mereka yang hadir.

Foto: ndok bader (telur ikan bader)



Perjalanan waktu kian larut, tapi karena rasa peduli akan seni tradisi yang menjadi identitas sebuah kota seperti Gresik dan apalagi dengan adanya suguhan makanan laut yang dimasak pedas seperti mboksiya (Lombok-trasi-uya/garam) menjadikan mata makin melek dan badan berkeringat ( biasa…wong jowo iku jarene nek wayahe mangan ae kringeten…nek nyambut gawe………??) sehingga menambah semangat dalam acara rembug budaya itu.

Beberapa solusi untuk melestarikan seni tradisi Lumpur telah berhasil dilahirkan, misalnya usulan Pak Hartono tentang usaha merekam cengkok khas mocopat Gresik oleh Mbah Nur Hasyim harus segera direalisasi untuk bisa segera dibuatkan notasi yang kemudian bisa dipelajari oleh generasi muda. Bahkan kalau perlu mocopat khas Gresik ini sebaiknya dimasukkan sebagai muatan local di sekolah-sekolah Gresik.

Kemudian H. Agus Suharno (Ajuk) menjanjikan, ia bersama-sama masyarakat Lumpur akan membuat festival Seni Pencak Macan dengan beragam kategori agar tradisi ini, yang menurut hasil diskusi para pakar ternyata tidak kalah dengan reog Ponorogo ini bisa bertahan dan berkembang. Masak Gresik menampilkan Reog Ponorogo untuk mewakili daerahnya dalam acara Festival dll. di tingkat Provinsi atau Nasional….naifkan ? wong kita punya seni tradisi sendiri, begitu kata Cak Nud.

Belum lagi masalah wisata kuliner. Makanan dan jajanan khas Gresik amat bervariasi, tidak hanya pudhak, ayas, cubung atau sego krawu, sego roomo saja, terbukti mala mini hanya dari Lumpu saja variasi makanan khas Gresik sudah puluhan, belum lagi daerah lain. Hal ini perlu penanganan lebih lanjut dan bagi para pakar yang hadir mala mini ada PR bagi mereka untuk terus bergerak menelusuri kekayaan budaya ini ke daerah Gresik yang lain (lain kali akan saya posting tentang ragam makanan khas Gresik).

Masalah Bangunan dan perda Cagar Budaya juga disinggung. Walaupun Gresik belum punya perda BCB itu tapi para pakar sudah memulai untuk itu, seperti apa yang kini dilakukan Dinas PU Gresik mengecat 60 gedung kuno yang ada di kota Gresik dan mereka juga akan terus bergerak dan bertindak untuk mendesak pemerintah Gresik agar segera menerbitkan perda BCB (Bangunan Cagar Budaya) itu. Sayang ada bangunan yang semestinya jadi ikon Gresik tapi tertutup pleh iklan reklame yang cukup besar, seperti bangunan Gardu SULING di pertigaan antara jl. R. Santri, Cokroaminoto dan Basuki Rahmat.

Waah.. tiba’e ngetik suwe-suwe yo kemeng…..wis sak mene ae dhisik.. mene-mene disambung maneh yo..
Foto: Luwo cerme (manisan buah cerme), dan ada 9 macam luwo lainnya seperti buah mangga, bengkuang, bonceng (labu) dll.


Luwo cerme opo luwo bonceng, nek wis ngene ojok dianggep enteng....

Wassalam…………………………………………………..
Gresik, 10.11.2010

1 komentar:

Bagaimana komentar/tanggapan anda?