Selasa, 17 Mei 2011

Laser Jamur : Jejak Peradaban Surabaya dan Gresik

GRESIK, KOMPAS.com--Puluhan guru dan siswa tingkat SLTA se-Jawa Timur selama tiga hari melakukan lawatan sejarah di Surabaya dan Gresik. Mereka menelusuri peninggalan bersejarah, gedung-gedung kuno yang masuk cagar budaya, kampung perdagangan dan pusat perekonomian tempo dulu hingga menyaksikan seni tradisi yang berusia ratusan tahun.


Kepala Seksi Sejarah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Ninik Yuni Astuti saat lawatan sejarah Jawa Timur (Laser Jamur) 2011 di Gresik Rabu (23/3) menuturkan, kegiatan lawatan sejarah sudah tiga kali digelar. Pada 2009 lalu dilaksanakan di Surabaya dan tahun 2010 dilaksanakan di Malang. Tahun ini dilaksanakan di Gresik dan Surabaya dengan fokus pada perkembangan ekonomi dan kesenian rakyat, katanya di sela-sela melihat bangunan kuno dan bersejarah di Gresik.
Ninik menjelaskan, peserta diseleksi. Dari tiap kabupaten kota mengirimkan satu guru dan satu siswa dalam lawatan sejarah ini. Pada Kamis (24/3) peserta diminta mempresentasikan hasil lawatan sejarah. Sebelum di Gresik peserta diajak ke Kampung Pecinan, Museum House of Sampoerna serta kawasan herigate Surabaya.
Di Gresik peserta menelusuri kampung pecinan dan klentengnya, kampung kemasan tempat dulu terdapat kegiatan penyamakan kulit dan industri emas sebagai cikal bakal perekonomian di Gresik. Mereka juga ke kawasan pesisir kota Gresik di Kelurahan Lumpur, dilanjutk an ke situs sejarah Wisata Makam Sunan Giri. Gresik dikenal sebagai kota pelabuhan, kota industri, dan kota perdagangan, katanya.
Budayawan Gresik Zainudin yang mendampingi menjelaskan kepada peserta mengenai kawasan bangunan kuno dan bernilai sejarah di Jalan Basuki Rahmat Gresik. Eks kantor karesidenan kini jadi rumah dinas wakil bupati Gresik. Meskipun bangunan kunonya ada di Jalan Basuki Rahmat, hanya kantor pos yang saat ini masih berfungsi. Di Gresik belum ada Peraturan Daerah untuk melindungi bangunan cagar budaya, katanya.
Dia juga menjelaskan, di kampung Pecinan toleransi ditunjung tinggi. Warga keturunan China bisa hidup berdampingan dengan masyarakat keturunan Arab dan pribumi. Di kawasan itu bangunan dengan arsitek China didomoninasi warna merah. Peserta juga diajak ke bangunan unik di Jalan Nyi Ageng Arem-arem, yakni rumah kuno yang dikenal dengan Gajah Mungkur, karena di depan rumah ada patung gajah membelakangi jalan (mungkur). Setelah menikmati bangunan dengan arsitek kuno yang unik, peserta menyaksikan atraksi pencak macan di Kelurahan Lumpur dan mendengarkan seni macapatan yang nyaris punah.
Mia Nugraha siswa dari SMA Negeri 3 Kediri menuturkan sangat senang bisa ikut Laserjamur tahun ini. Dia mengagumi sejumlah budaya dan tinggalan sejarah kuno yang masih ada hingga saat ini. Dia berharap pemerintah dan masyarakat semakin peduli terhadi sejarah dan nilai-nilai yang ditinggalkannya. Paling tidak ini memberi inspirasi bagi saya bagaimana memelihara peninggalan bersejarah, tuturnya.
Sementara itu seorang guru dari Bangkalan, Jazirah menyatakan kegiatan ini sangat positif. Dari penelurusan yang dilakukan setidaknya terkuak bahwa Gresik dan Surabaya memiliki peran penting sejak ratusan tahun lalu. Dari tinggalan-tinggalan yang ada menunjukkan dua kota ini menunjukkan peran sentral sebagai pusat ekonomi di Nusantara tempo dulu, tuturnya.
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Komisariat Gresik Mustakim menuturkan, Laserjamur semestinya jadi agenda rutin. Masyarakat tidak tahu bila potensi yang ada tidak digali. Banyaknya bangunan kuno dan bersejarah di Gresik menunjukkan pada abad ke-13 Gre sik menjadi pusat bisnis dan perdagangan yang diperhitungkan, katanya.
Dahulu orang Portugis menyebutkan Gresik adalah Kota Agazi. Orang Belanda menyebutnya sebagai Grissee dan oleh orang Jawa disebut Gresik. Gresik diperkirakan dari kata giri , dalam bahasa Jawa berarti bukit, dan kata gisik , yang berarti pantai. Dulunya Gresik memang memiliki wilayah perbukitan dan pantai.
Gresik pada awal abad XII sudah merupakan kota pelabuhan dan pusat perdagangan. Para pedagang dari Arab, Persia, China, dan dari wilayah Nusantara berbaur menjadi satu. Selain berniaga, para pedagang itu juga menyebarkan ajaran agama Islam. Hal itu diperkuat dengan adanya makam Sunan Giri, Malik Ibrahim, Fatimah binti Maimun, Nyi Ageng Pinatih, dan lainnya. Seni budaya lokal bernuansa Islami juga bermunculan, di antaranya seni tradisional pencak macan yang dikenal sejak ratusan tahun lalu. Pencak macan ter tuang dalam Serat Sindujoyo yang dulu dibacakan dalam tradisi macapatan.
Sumber :
Kompas Cetak
Adi Sucipto | Jodhi Yudono | Kamis, 24 Maret 2011 | 13:12 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana komentar/tanggapan anda?