Jumat, 03 Desember 2010

Gresik Produsen Gamelan Ternama ?

Gending, begitu nama sebuah desa di Gresik yang lokasinya ada diperbatasan menuju Surabaya (Segoro Madu) dan dekat dengan bukit dimana Sunan Giri pernah bertahta. Konon Sunan Giri disebut-sebut yang menciptakan tembang ILIR-ILIR, walaupun ada yang mengatakan bahwa Sunan kalijaga yang menciptakan. Namun terkait nama desa Gending dan tembang Ilir-ilir itu, bisa jadi disinilah pernah menjadi tempat pembuatan gamelan.

Lacak Jejak Gamelan Kuno sampai ke Gresik


Ki Sumarsam, 37 Tahun Jadi Duta Gamelan di Amerika Serikat
Lacak Jejak Gamelan Kuno sampai ke Gresik

Ki Sumarsam, doktor ahli gamelan yang sudah 37 tahun mengajar di Wesleyan University, Amerika, pulang ke tanah air untuk menelusuri jejak peninggalan produsen gamelan di masa lampau. Apa yang menyebabkan dia tertarik ke Gresik, Jatim?

HAMPIR empat dekade tinggal di luar negeri ternyata tak mengubah "kejawaan" Sumarsam. Aksen dan tutur kata doktor lulusan Universitas Cornell, Amerika, itu masih seperti bahasa ibunya di Bojonegoro, Jatim. Mengenakan kemeja putih lengan pendek serta kaca mata dengan bingkai plastik hitam, Pak Sam, panggilan akrabnya, sepintas seperti umumnya orang Indonesia.

Sabtu siang (14/6) lelaki berusia 64 tahun itu memasuki Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Gresik. Gedung serbaguna di pusat kota itu sedang mengadakan pameran handicraft. Beragam hasil kerajinan tangan dipajang. Ada tas dari kulit, kalung manik-manik, dan gelang.

Seolah tak puas karena barang yang dicarinya tidak ada, Sumarsam menuju salah seorang penjaga di gedung. ''Saya mau mencari bukti-bukti peninggalan pembuatan gamelan di Gresik,'' katanya kepada Jawa Pos.

Sejak berangkat dari tempatnya mengajar di Middletown, Negara Bagian Connecticut, Amerika, Sumarsam memang sedang penasaran dengan gamelan dari Gresik. Sebab, dari literatur yang dia baca, kota yang dulu masuk Karesidenan Surabaya adalah salah satu produsen gamelan terkemuka di tanah Jawa.

''Selain itu, ya ada lainnya. Misalnya di Semarang, Solo, dan Demak (ketiganya di Jawa Tengah). Tapi, di Gresik, orang kan jarang yang pernah mendengarnya,'' katanya dengan bahasa yang santun.

Sejak 1971 Ki Sumarsam mengajar di Universitas Wesleyan, salah satu perguruan tinggi tertua (didirikan pada 1831) di Negara Bagian Connecticut, Amerika. Universitas itu tergolong salah satu perguruan tinggi terbaik di Amerika yang memiliki berbagai program seni unggulan. Dibuka sejak 1960, departemen musik di Wesleyan, selain punya pendidikan musik gamelan Jawa, juga musik klasik India Selatan, Afrika Barat, Afro-Amerika, dan lain-lain.

Tentang gamelan di Gresik orang memang jarang tahu. Tapi, Sumarsam memiliki bukti-bukti literatur yang menguatkan hal itu. ''Residen Gresik bernama De Groot dengan jelas menunjukkan dalam catatannya bahwa daerahnya adalah tempat produksi gamelan,'' katanya.

Bapak dua anak itu makin penasaran karena Gubernur Jenderal Inggris Sir Stamford Raffles juga pernah menyebutkan hal yang sama. Apalagi, literatur lain menyebut bahwa gamelan memang diproduksi di daerah-daerah pesisir seperti Gresik. ''Makanya, gamelan kan sampai sekarang diproduksi di Semarang. Nah, Gresik itu juga disebutkan salah satunya,'' kata suami Oerip Sri Maeni itu.

Kunjungan ke Gresik kali ini, kata dia, memang bagian dari proyek penelitian dari liburan musim panas di kampusnya. Sebelum turun ke lapangan, dia mengumpulkan dokumen sejarah Belanda abad ke-18 hingga ke-19. Selain itu, Sumarsam menelusuri gamelan-gamelan kuno.

''Itu yang sekarang sudah jarang (ditemui). Misalnya, gamelan surapinggan, mataraman, pelog miring, dan sekaten,'' katanya.

Gamelan-gamelan itu mulai jarang terlihat. Padahal, itu salah satu bagian penting dari karya budaya Jawa. Barang itu pula yang dicarinya saat bertandang ke GNI di Gresik. Sebab, menurut beberapa orang, beberapa gamelan kuno itu masih ada. ''Katanya tersimpan di salah satu ruangan di GNI,'' ujarnya.

Sayangnya, ketika dia hendak melihat benda-benda itu, pintu gudang terkunci. Yang membuat dia kecewa, seniman setempat mengatakan benda-benda tersebut tidak jelas rimbanya. ''Ada yang bilang sudah sering dipakai berbagai pertunjukan. Ada yang campur sari, lalu apa gitu. Penjelasannya tidak jelas,'' katanya. Sumarsam pun balik ke hotel tempatnya menginap tanpa hasil.

Soal gamelan, Sumarsam memang ahlinya. Maklum, sejak kecil dia akrab dengan alat musik tradisional. Bahkan, ketika berusia delapan tahun, dia sudah ''magang'' di sebuah rombongan musisi tradisional di desa kelahirannya di Dander, Bojonegoro. ''Sejak masih kanak-kanak, saya sudah biasa memainkan kendhang dan saron,'' ungkapnya.

Hal itu berlanjut saat beranjak remaja. Saat ''merayakan'' kelulusan SMP, dua bulan Sumarsam menabuh gamelan bersama rombongan kethoprak yang kebetulan pentas di desanya. ''Hampir tiap malam saya menabuh gamelan,'' tuturnya.

Ketertarikan Sumarsam pada gamelan membuatnya hijrah ke Solo. Di kota itu dia melanjutkan pendidikan formal tentang gamelan di Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar), Surakarta. Lulus pada 1964, Sumarsam menjadi pengajar freelance di SMP Kasatriyan, Surakarta, sebelum akhirnya diangkat menjadi pengajar tetap di Kokar pada tahun berikutnya.

Bersamaan dengan itu, Akademi Seni Karawitan Indonesa (ASKI) didirikan. Sembari mengajar, dia pun mendaftar menjadi mahasiswa di sana. ''Saya ini lulusan ASKI generasi pertama lho,'' ungkapnya.

Pengalaman mengajar gamelan Sumarsam semakin bertambah ketika pada 1971 dia ''ditanggap'' untuk mengajar gamelan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, Australia. Setelah itu dia tak kembali ke tanah air. Sebab, pada tahun yang sama Universitas Wesleyan di Connecticut, Amerika, mengangkatnya sebagai visiting artist untuk mata kuliah gamelan.

Hingga saat ini minat mahasiswa Amerika untuk mengikuti mata kulih gamelan masih besar. Saking banyaknya, Sumarsam harus menyeleksi calon mahasiswanya. Sebab, kuota yang disediakan hanya dua kelas. Masing-masing terdiri atas 20 mahasiswa. ''Kalau kebanyakan, susah mengajarnya," tuturnya.

Bagaimana menyeleksi mereka? Sumarsam memiliki strategi cukup jitu. Mereka ditugasi menulis esai tentang mengapa ingin mengikuti mata kuliah gamelan. ''Dari esai itulah, saya menilai mana alasan mahasiswa yang paling bagus. Kalau bagus, ya diterima,'' kata Sumarsam yang dinobatkan sebagai profesor sejak 1992 itu.

Mengajar gamelan di Amerika, kata dia, berbeda dengan di Indonesia. Saat masih di Kokar, gamelan diajarkan secara mendalam. Sebab, lulusan sekolah yang kini berubah menjadi Sekolah Menengah Karawitan Indonesia itu akan menjadi pemain gamelan atau pengajar gamelan.

''Di Amerika jelas berbeda. Di sini gamelan diajarkan dalam konteks liberal education. Gamelan diajarkan agar mereka tahu apa itu gamelan dan hal-hal yang berkaitan dengannya,'' katanya. ''Mahasiswa di Amerika kan dididik tidak untuk menjadi pengajar. Yang penting mereka tahu gamelan dan konsep-konsepnya,'' imbuhnya.

Memang, kelas gamelan yang diberikan dalam satu semester itu tidak mendalam. Meski begitu, ada juga mahasiswa yang serius belajar gamelan. ''Mereka biasanya mengambil kuliah lebih lama. Paling tidak dua semester. Ada juga yang sampai S-2,'' katanya.

Meski sudah 37 tahun hidup di Amerika, Sumarsam masih fasih berbicara bahasa Jawa. Begitu pula anak pertamanya. ''Soalnya, anak saya yang pertama lahir di Jawa. Berbeda dengan anak kedua saya. Dia tidak bisa berbicara bahasa Jawa sama sekali. Dia lahir di Amerika. Makanya, dia juga jadi warga negara sana,'' imbuhnya.

Anak pertama Sumarsam (perempuan) sudah memberikan dua cucu dari pernikahannya dengan lelaki lulusan criminal justice di sebuah perguruan tinggi di Amerika. ''Menantu saya itu polisi di sana,'' kata penulis buku Gamelan yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Pelajar (2005) itu.

Apa resep bisa betah tinggal di negeri orang? Sumarsam tersenyum. Menurut dia, semangat hidup yang membuatnya bisa bertahan di negeri Paman Sam itu. ''Saya tidak pernah mau berhenti dan nganggur,'' katanya. Kalau tidak sedang mengajar, Sumarsam mengisi hari-harinya dengan melakukan riset dan penelitian. (el)[ Kamis, 19 Juni 2008 ] Oleh:AGUNG PUTU ISKANDAR, Surabaya

INFO:
Pengetahuan Sumarsam tentang sejarah gamelan dan kesenian tradisional Jawa lainnya tidak diragukan. Dia pernah melakukan penelitian untuk melacak beberapa pengrajin gamelan yang banyak tersebar di pesisir pantai pulau Jawa di masa pendudukan Belanda.

Menurut catatan salah seorang residen Belanda yang bertugas di Gresik, ternyata ada pengrajin gamelan di daerah yang terkenal dengan sebutan Gendingan. Pejabat residen Belanda ini sempat mencatat nama-nama jenis gamelan yang diproduksi saat itu. Tapi menurut Sumarsam pengrajin gamelan itu sekarang sudah punah dan sulit melacak peninggalan gamelan yang dihasilkan para pengrajin di kota ini. Menurutnya, beberapa tempat yang ditunjuk teman Sumarsam masih menyimpan peninggalan gamelan kuno produksi Gresik ini, juga tidak ditemukan benda tersebut.�

Boleh jadi penyebab kepunahan pengrajin gamelan itu berkait dengan faktor ekonomi yang melanda Indonesia saat itu. Ketika terjadi perang Diponegoro, kondisi ekonomi masyarakat pribumi saat itu sedang mengalami masa krisis. Hal ini berpengaruh besar terhadap dunia industri perumahan saat itu. Akibatnya, banyak industri rumahan mengalami kebangkrutan termasuk pengrajin gamelan.(Link: Duta Masyarakat.com)

CATATAN GRISSEE IS GRESIK :
Sekitar sampai tahun 1980an memang ada gamelan di GNI Gresik yang digunakan untuk latihan ibu-ibu Dharma Wanita dan generasi muda yang dibina oleh Almarhum Pak Djoyo (Kakek Pitter GOH, pemusik Gresik). Namun sepeninggal Pak Djojo dan ketika para seniman menanyakankeberadaan gamelan tersebut, sudah kehilangan jejak. Apakah Gamelan (orang Gresik menyebut: gendingan) itu adalah sisa peninggalan buatan Gresik atau tidak ? Wallahu A’lam bi al-shawab. Kris Adji AW

1 komentar:

  1. saifuddien sjaaf2 April 2011 02.56

    Bagaimana dengan GAMELAN yang dulu ada di bale Wetan dan Bale Kulon , yang dipakai wayangan pada waktu wayang bumi? Dimana wayang bumi sendiri sudah berhenti sejak 1965.

    Di tahun 1950-an, wayangan itu hanya ada di Lumpur, di kampung lain jarang sekali ada.
    Mungkin dulu ada satu set gamelan di Kawedanan, tetapi saya tidak yakin.

    BalasHapus

Bagaimana komentar/tanggapan anda?