Sabtu, 25 Desember 2010

Kongres Budaya Jatim Hasilkan Kesepahaman Politik Kebhinnekaan

Pada hari minggu, 12 Desember 2010 saya menghadiri undangan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jatim dalam rangka Kongres Kebudayaan atau Dialog Publik Temu Pikir Kebudayaan 2010: Dari Jawa Timur Untuk Indonesia. Judul kali ini memang panjang, sepanjang dialog yang dilontarkan oleh para peserta (Ada Cak Kandar, Dukut, Toto Sonata, Amang Mawardi, Bonari dll. selain para Ketua Dewan Kesenian Daerah-daerah di Jatim).

Dari sekian masalah yang dibahas dan digagas tentang kebudayaan lebih khusus kesenian dan tradisi akhirnya oleh para nara sumber (Henry Nurcahyo, Fauzi, Prof.DR.Ayu Sutarto, dan Endo Suwanda - Semua pengurus DKJT) menghasilkan kesepahaman yang drafnya rencananya akan disampaikan ke Gubernur dan Pusat untuk ditindaklanjuti (?), seperti cuplikan berikut ini:

Surabaya – Kongres Kebudayaan Jawa Timur 2010 menghasilkan kesepahaman tentang tema besar, yakni politik kebhinekaan. Ketua Panitia, Ayu Sutarto, Minggu, mengatakan, poin – poin kesepahaman yang dihasilkan antara lain tentang pentingnya menghormati kebudayaan lokal sebagai pembangunan karakter bangsa.

“Kita berharap, kebhinekaan bisa memunculkan pemimpin yang berkarakter dan memberi tauladan,” ujarnya di sela dialog publik “Temu Pikir Kebudayaan dari Jatim untuk Indonesia” di Gedung Budaya Cak Durasim.

Guru besar Universitas Negeri Jember tersebut juga menjelaskan, politik kebhinekaan harus menjadi “mainstream” pembangunan bangsa dengan pendekatan kebudayaan yang berkebhinekaan.

“Untuk mengurai masalah bangsa yang kusut ini, perlu melalui pendekatan kebudayaan dan tidak semata-mata politik praktis,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), Endo Suanda, mengungkapkan poin lain yang telah menjadi kesepahaman bersama adalah tentang lintas generasi kebudayaan lokal.

“Yang jelas, lokalitas kebudayaan warisan budaya perlu ditranformasikan dalam generasi berikutnya,” papar pria yang juga pakar tradisi tersebut.

Poin – poin itu dihasilkan melalui kongres selama tiga hari yang digelar di Hotel Cendana, Surabaya, sejak 10-12 Desember.

Ada empat sub pokok bahasan penting yang dibahas, yakni kearifan lokal, warisan budaya, lintas generasi, dan politik bhinneka tunggal ika sebagai politik identitas dan jati diri bangsa.

Sementara panitia kongres, Riadi Ngasiran, mengatakan semua sub bahasan menghasilkan poin yang sifatnya bukan resolusi atau semacam rekomendasi, tetapi masih berupa draf atau rancangan.

“Ini masih merupakan draf dan perlu dibahas lagi oleh berbagai pihak yang berkomitmen terhadap masa depan kebudayaan Indonesia,” ungkap dia.

Kongres tersebut dihadiri sekitar 100 seniman dan budayawan dari Jawa Timur, antara lain Endo Suanda (pembicara), Taufik Rahzen, Radhar Panca Dahana, Nur Syam, Rahma Ida, dan Melani Budianta.

Sumber:
antarajatim, 12 Des 2010 18:15:26| Budaya & Pariwisata | Penulis : Fiqih Arfani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana komentar/tanggapan anda?